Bab
I
Pendahuluan
1.1 Latar
belakang
Caption foto
Dalam foto jurnalistik,
suatu foto bagus bisa tidak berarti apa-apa tanpa caption. Karena keberadaan
caption sama pentingnya dengan gambar itu sendiri. Caption membuat pembaca
tidak perlu menerka-nerka pesan dalam foto.
Kini, di era di mana foto
membanjiri layar ponsel dan komputer kita, caption menjadi semakin penting bagi
media untuk menarik pembaca. Riset yang dilakukan Sara Quinn untuk National
Press Photographers Association menunjukkan bahwa caption yang baik membuat
satu foto dilihat 30% lebih lama oleh pembaca. Caption yang ditulis dengan baik
membuat orang membaca dan kembali melihat foto secara berulang untuk memahami
cerita.
Caption adalah teks yang
menyertai foto jurnalistik. Fred S.Parrish dalam bukunya “Photojournalism: An
Introduction” menjabarkan bahwa caption membantu mengarahkan perspektif sebuah
foto dan menjelaskan detail informasi yang tidak ada dalam gambar,
membingungkan, atau tidak jelas.
Teks ini mengembuskan
nafas untuk menghidupkan foto dengan memberi pendalaman akan sebuah peristiwa.
Ia mempertemukan foto dengan konteksnya dan membantu pembaca membangun
pemahaman akan sebuah cerita di balik foto. Jurnalis foto harus mengumpulkan
data yang cukup untuk menulis caption.
The Complete Caption
Keterangan foto lengkap
memuat semua informasi berisi cerita dalam foto. Caption yang lengkap biasanya
disertai kelengkapan data 5W + 1H. Penulisannya berformat gaya penulisan
berita, yang dapat menjawab semua pertanyaan terkait foto. Biasanya caption
jenis ini digunakan untuk foto lepas yang berdiri sendiri.
Foto berita tunggal yang
sifatnya berdiri sendiri biasanya tidak terkait dengan pemberitaan pada sebuah
edisi tapi menceritakan kisahnya sendiri. Foto jenis ini di suratkabar dapat
dipasang di halaman manapun termasuk halaman terakhir.
The Published Caption
Yang kedua adalah
Published caption. Yaitu keterangan foto yang dibuat untuk disiarkan atau
dimuat melalui media massa. Penyajian published caption lebih ringkas karena
tidak semua informasi yang dimiliki dicantumkan dalam penulisannya. Pada
published caption biasanya memuat:
1. Overline/tagline/atau
judul. Sama seperti judul berita tulis, gunanya untuk menarik perhatian
pembaca. Biasanya terdiri dari 2-3 kata dan dipisah menggunakan tanda strip
dengan teks foto.
2. Keterangan
foto. Yaitu kalimat berisi kejadian/peristiwa, nama, lokasi, dan waktu
pemotretan. Latar belakang foto yang dapat memperkuat cerita dapat ditulis pada
kalimat kedua.
Who
1. Nama
subjek dalam foto. Selalu tanyakan bagaimana mengejanya supaya tidak salah
dalam penulisan.
2. Tanyakan
umur, bila dalam foto memuat anaknya tanyakan juga umurnya dan duduk di kelas
berapa si anak bersekolah.
3. Tanyakan
alamat di mana subjek tinggal (untuk bekal data bila ingin mengelaborasi cerita
di kemudian hari).
4. Nomor
telepon bila dibutuhkan untuk konfirmasi.Tanyakan hal-hal lain
yang relevan dengan diri subjek, misalnya apa pekerjaanya dan kehidupannya.
5. Saat
memotret personel militer, berusahalah memeroleh nama dan kesatuannya. Jangan berasumsi
satu pasukan berasal dari kesatuan yang sama. Sebagian dari mereka bisa berasal
dari Marinir atau pasukan yang berbeda.
What
Selalu
identifikasi peristiwa dengan benar secara menyeluruh. Misalnya sebuah acara
parade sekolah jangan lupa menyertakan keterangan apakah itu adalah acara
tahunan dan seterusnya.
When
Tulislah
hari, bulan, dan tahun. Seringkali foto jurnalistik dimuat beberapa saat
setelah peristiwa terjadi.
Pada peristiwa tertentu
jurnalis foto harus tahu waktunya dengan pasti, misalnya sebuah kebakaran
berawal pada pukul 8.20 WIB dan seterusnya.
Where
Carilah
data lokasi peristiwa dengan lengkap. Nama jalan, desa, dan seterusnya.
Carilah data tempat yang lebih
spesifik. Misalnya nama gedung, atau pemilik tempat
Why
Pastikan
memeroleh data why dengan benar. Misalnya kenapa sebuah acara diadakan di atas
danau, seorang ibu menangis pilu dan seterusnya. Atau keterangan berupa sebab
dari suatu kejadian. Seringkali data-data tentang “why” ini tidak dibutuhkan
dalam penulisan caption pendek, tapi jurnalis foto memerlukannya untuk menulis
keterangan foto pada stand-alone image.
Fotografi jurnalistik
Jelas berbeda dengan bidang fotografi
lainnya. Foto jurnalistik adalah bagian
dari dunia jurnalistik yang menggunakan bahasa visual untuk menyampaikan pesan
kepada masyarakat luas dan tetap terikat kode etik jurnalistik. Foto
jurnalistik bukan sekadar jeprat-jepret semata. Ada etika yang selalu dijunjung
tinggi, ada pesan dan berita yang ingin disampaikan, ada batasan batasan yang
tidak boleh dilanggar, dan ada momentum yang harus ditampilkan dalam sebuah
frame. Hal terpenting dari fotografi jurnalistik adalah nilai-nilai kejujuran
yang selalu didasarkan pada fakta obyektif semata.
Para
pewartanya harus selalu berada di garis depan. Mereka pun selalu siaga di garis
belakang dalam mewartakan sebuah berita kepada masyarakat luas. Pewarta foto
juga dituntut sigap dalam menangkap setiap “momentum” dari sebuah peristiwa,
membingkainya dengan dalam sebuah gambar yang berbeda dari apa yang dilihat
oleh khalayak awam. Pun yang terpenting, mereka harus mengerti dan paham atas
peristiwa yang sedang diabadikannya.
Dasar
kelahiran pertumbuhan jurnalistik foto, menurut Soelarko ditentukan oleh tiga
faktor:
1.
Rasa ingin tahu manusia, yang merupakan naluri dasar, yang menjadi wahana
kemajuan.
2.
Pertumbuhan media massa sebagai media audio visual, yang memuat tulisan (atau
uraian mulut) dan gambar (termasuk gambar yang hidup).
3.
Kemajuan teknologi, yang memungkinkan terciptanya kemajuan fotografi dengan
pesat (termasuk perfilm-an dan video untuk pemberitaan)
Dalam
dunia jurnalistik, foto merupakan kebutuhan yang vital. Sebab foto merupakan
salah satu daya pemikat bagi para pembacanya. Selain itu, foto merupakan
pelengkap dari berita tulis. Penggabungan keduanya, kata-kata dan gambar,
selain menjadi lebih teliti dan sesuai dengan kenyataan dari sebuah peristiwa,
juga seolah mengikutsertakan pembaca sebagai saksi dari peristiwa tersebut.
Esensi
dari foto jurnalistik adalah suatu foto atau gambar yang dapat bercerita atau
memaparkan kejadian apa yang terjadi dalam foto tersebut.
Kelebihan
dari sebuah foto sebagai medium komunikasi visual menjadikan lebih mudah
dipahami dari pada tulisan yang membutuhkan tenaga dan pikiran.
Fungsi
jurnalistik :
•
menyiarkan informasi
•
mendidik
•
menghibur
•
mempengaruhi
Ciri-ciri
surat kabar dan majalah :
•
Universalitas
•
Aktualitas
•
Periodisitas
•
Publisitas
Dalam
foto jurnalistik terdapat kategori-kategori untuk membedakan suatu foto itu
termasuk kedalam karya foto jurnalis atau bukan.
Ada
3 kategori yaitu :
1. Foto Human Interest
Foto
dalam hal ini biasanya menampilkan manusia dan lingkungannya, sesuai dengan
namanya. Foto ini membawa pesan tentang sisi kemanusiaan yang dapat menggugah
rasa kemanusiaan orang yang melihatnya.
2. Foto Feature
Biasanya
foto feature di gunakan untuk menerangkan atau memperkuat suatu tulisan baik di
majalah, koran dan lain-lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa foto yang
di pakai dalam foto feature juga merupakan foto Human Interest.tetapi perbedaan
diantara foto-foto lain adalah pada hal yang ditampilkan. Biasanya yang
ditampilkan bukan peristiwa utamanya, tetapi sisi lain dari berita atau
peristiwa tersebut.
3. Foto
Berita (Spot News atau On The Spot)
Dalam
membuat Spot News kita berpedoman atau memuat unsur What, Why, Who, Where, When and How. Foto
inimenampilkan gambar-gambar yang tanpa membaca keterangan atau resensi yang
ada sudah dapat bercerita atatu bisa dikatakan berdiri sendiri.. semakin banyak
informasi yang terekam dalam foto tersebut, semakin layak foto tersebut. Akan
tetapi terbatas pada kehangatan berita yang disajikan. Waktu yang terbatas akan
membuat foto berita ini cepat basi. Namun foto ini masih dapat digunakan
walaupun hanya sebatas dokumen.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan pertanyaan padalatar belakang
diatas berkaitan dengan tugas akhir ini penuli menyajikan rumusan
masalah,sebagai berikut,
“Bagaimana kesesuaian foto berita dengan
isi caption pada koran tempo edisi Juli sampai September 2020”
1.3 Batasan
Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas dalam
tugas akhir penulis membatasi rumusan masalah, sebagai berikut :
1. Isi caption foto berita ada koran Tempo
edisi Juli sampai September 2020”
2. Foto berita pada koran Tempo edisi Juli
sampai September 2020
3. Kesesuaian caption foto berita pada koran
Tempo edisi Juli sampai September 2020
1.4 Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami caption foto berita pada
koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
2. Untuk memahami foto berita pada koran
Tempo edisi Juli sampai September 2020
3. Untuk memahami kesesuaian caption foto
berita pada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
1.5 Sistematika
Penulisan
Untuk mempermudah pembacaan dan mengetahui
isi laporan ini, penulis menguraikan pembahasan laporan secara sistematis
sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi pembahasan mengenai Latar
Belakang, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan dan Sistematika Penyusunan Laporan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi pembahasan mengenai
jurnalisme online dan analisis ini.
BAB III METODOLOGI
Bab ini menguraikan jenis penelitian
metode pendekatan penelitian dan metode pengumpulan data.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan analisis data,
analisis kategori, dan pembahasan.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi mengenai kesimpulan dan saran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar