Senin, 13 April 2020

Kesesuaian Foto Berita dengan Captionnya_Devi Puspitasari_1806321037_PB4D


Bab I
Pendahuluan

1.1  Latar belakang
Caption foto
Dalam foto jurnalistik, suatu foto bagus bisa tidak berarti apa-apa tanpa caption. Karena keberadaan caption sama pentingnya dengan gambar itu sendiri. Caption membuat pembaca tidak perlu menerka-nerka pesan dalam foto.
Kini, di era di mana foto membanjiri layar ponsel dan komputer kita, caption menjadi semakin penting bagi media untuk menarik pembaca. Riset yang dilakukan Sara Quinn untuk National Press Photographers Association menunjukkan bahwa caption yang baik membuat satu foto dilihat 30% lebih lama oleh pembaca. Caption yang ditulis dengan baik membuat orang membaca dan kembali melihat foto secara berulang untuk memahami cerita.
Caption adalah teks yang menyertai foto jurnalistik. Fred S.Parrish dalam bukunya “Photojournalism: An Introduction” menjabarkan bahwa caption membantu mengarahkan perspektif sebuah foto dan menjelaskan detail informasi yang tidak ada dalam gambar, membingungkan, atau tidak jelas.
Teks ini mengembuskan nafas untuk menghidupkan foto dengan memberi pendalaman akan sebuah peristiwa. Ia mempertemukan foto dengan konteksnya dan membantu pembaca membangun pemahaman akan sebuah cerita di balik foto. Jurnalis foto harus mengumpulkan data yang cukup untuk menulis caption.
The Complete Caption
Keterangan foto lengkap memuat semua informasi berisi cerita dalam foto. Caption yang lengkap biasanya disertai kelengkapan data 5W + 1H. Penulisannya berformat gaya penulisan berita, yang dapat menjawab semua pertanyaan terkait foto. Biasanya caption jenis ini digunakan untuk foto lepas yang berdiri sendiri.
Foto berita tunggal yang sifatnya berdiri sendiri biasanya tidak terkait dengan pemberitaan pada sebuah edisi tapi menceritakan kisahnya sendiri. Foto jenis ini di suratkabar dapat dipasang di halaman manapun termasuk halaman terakhir.
The Published Caption
Yang kedua adalah Published caption. Yaitu keterangan foto yang dibuat untuk disiarkan atau dimuat melalui media massa. Penyajian published caption lebih ringkas karena tidak semua informasi yang dimiliki dicantumkan dalam penulisannya. Pada published caption biasanya memuat:
1.      Overline/tagline/atau judul. Sama seperti judul berita tulis, gunanya untuk menarik perhatian pembaca. Biasanya terdiri dari 2-3 kata dan dipisah menggunakan tanda strip dengan teks foto.
2.      Keterangan foto. Yaitu kalimat berisi kejadian/peristiwa, nama, lokasi, dan waktu pemotretan. Latar belakang foto yang dapat memperkuat cerita dapat ditulis pada kalimat kedua.
Who
1.      Nama subjek dalam foto. Selalu tanyakan bagaimana mengejanya supaya tidak salah dalam penulisan.
2.      Tanyakan umur, bila dalam foto memuat anaknya tanyakan juga umurnya dan duduk di kelas berapa si anak bersekolah.
3.      Tanyakan alamat di mana subjek tinggal (untuk bekal data bila ingin mengelaborasi cerita di kemudian hari).
4.      Nomor telepon bila dibutuhkan untuk konfirmasi.Tanyakan hal-hal lain yang relevan dengan diri subjek, misalnya apa pekerjaanya dan kehidupannya. 
5.      Saat memotret personel militer, berusahalah memeroleh nama dan kesatuannya. Jangan berasumsi satu pasukan berasal dari kesatuan yang sama. Sebagian dari mereka bisa berasal dari Marinir atau pasukan yang berbeda.
What
Selalu identifikasi peristiwa dengan benar secara menyeluruh. Misalnya sebuah acara parade sekolah jangan lupa menyertakan keterangan apakah itu adalah acara tahunan dan seterusnya.
When
Tulislah hari, bulan, dan tahun. Seringkali foto jurnalistik dimuat beberapa saat setelah peristiwa terjadi.
Pada peristiwa tertentu jurnalis foto harus tahu waktunya dengan pasti, misalnya sebuah kebakaran berawal pada pukul 8.20 WIB dan seterusnya.
Where
Carilah data lokasi peristiwa dengan lengkap. Nama jalan, desa, dan seterusnya.
Carilah data tempat yang lebih spesifik. Misalnya nama gedung, atau pemilik tempat
Why
Pastikan memeroleh data why dengan benar. Misalnya kenapa sebuah acara diadakan di atas danau, seorang ibu menangis pilu dan seterusnya. Atau keterangan berupa sebab dari suatu kejadian. Seringkali data-data tentang “why” ini tidak dibutuhkan dalam penulisan caption pendek, tapi jurnalis foto memerlukannya untuk menulis keterangan foto pada stand-alone image.
Fotografi jurnalistik
Jelas berbeda dengan bidang fotografi lainnya.  Foto jurnalistik adalah bagian dari dunia jurnalistik yang menggunakan bahasa visual untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dan tetap terikat kode etik jurnalistik. Foto jurnalistik bukan sekadar jeprat-jepret semata. Ada etika yang selalu dijunjung tinggi, ada pesan dan berita yang ingin disampaikan, ada batasan batasan yang tidak boleh dilanggar, dan ada momentum yang harus ditampilkan dalam sebuah frame. Hal terpenting dari fotografi jurnalistik adalah nilai-nilai kejujuran yang selalu didasarkan pada fakta obyektif semata.
Para pewartanya harus selalu berada di garis depan. Mereka pun selalu siaga di garis belakang dalam mewartakan sebuah berita kepada masyarakat luas. Pewarta foto juga dituntut sigap dalam menangkap setiap “momentum” dari sebuah peristiwa, membingkainya dengan dalam sebuah gambar yang berbeda dari apa yang dilihat oleh khalayak awam. Pun yang terpenting, mereka harus mengerti dan paham atas peristiwa yang sedang diabadikannya.
Dasar kelahiran pertumbuhan jurnalistik foto, menurut Soelarko ditentukan oleh tiga faktor:
1. Rasa ingin tahu manusia, yang merupakan naluri dasar, yang menjadi wahana kemajuan.
2. Pertumbuhan media massa sebagai media audio visual, yang memuat tulisan (atau uraian mulut) dan gambar (termasuk gambar yang hidup).
3. Kemajuan teknologi, yang memungkinkan terciptanya kemajuan fotografi dengan pesat (termasuk perfilm-an dan video untuk pemberitaan)
Dalam dunia jurnalistik, foto merupakan kebutuhan yang vital. Sebab foto merupakan salah satu daya pemikat bagi para pembacanya. Selain itu, foto merupakan pelengkap dari berita tulis. Penggabungan keduanya, kata-kata dan gambar, selain menjadi lebih teliti dan sesuai dengan kenyataan dari sebuah peristiwa, juga seolah mengikutsertakan pembaca sebagai saksi dari peristiwa tersebut.
Esensi dari foto jurnalistik adalah suatu foto atau gambar yang dapat bercerita atau memaparkan kejadian apa yang terjadi dalam foto tersebut.
Kelebihan dari sebuah foto sebagai medium komunikasi visual menjadikan lebih mudah dipahami dari pada tulisan yang membutuhkan tenaga dan pikiran.
Fungsi jurnalistik :
• menyiarkan informasi
• mendidik
• menghibur
• mempengaruhi
Ciri-ciri surat kabar dan majalah :
• Universalitas
• Aktualitas
• Periodisitas
• Publisitas
Dalam foto jurnalistik terdapat kategori-kategori untuk membedakan suatu foto itu termasuk kedalam karya foto jurnalis atau bukan.
Ada 3 kategori yaitu :
 1. Foto Human Interest
Foto dalam hal ini biasanya menampilkan manusia dan lingkungannya, sesuai dengan namanya. Foto ini membawa pesan tentang sisi kemanusiaan yang dapat menggugah rasa kemanusiaan orang yang melihatnya.
  2. Foto Feature
Biasanya foto feature di gunakan untuk menerangkan atau memperkuat suatu tulisan baik di majalah, koran dan lain-lain. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa foto yang di pakai dalam foto feature juga merupakan foto Human Interest.tetapi perbedaan diantara foto-foto lain adalah pada hal yang ditampilkan. Biasanya yang ditampilkan bukan peristiwa utamanya, tetapi sisi lain dari berita atau peristiwa tersebut.
3. Foto Berita (Spot News atau On The Spot)
Dalam membuat Spot News kita berpedoman atau memuat unsur  What, Why, Who, Where, When and How. Foto inimenampilkan gambar-gambar yang tanpa membaca keterangan atau resensi yang ada sudah dapat bercerita atatu bisa dikatakan berdiri sendiri.. semakin banyak informasi yang terekam dalam foto tersebut, semakin layak foto tersebut. Akan tetapi terbatas pada kehangatan berita yang disajikan. Waktu yang terbatas akan membuat foto berita ini cepat basi. Namun foto ini masih dapat digunakan walaupun hanya sebatas dokumen.
1.2  Rumusan Masalah
       Berdasarkan pertanyaan padalatar belakang diatas berkaitan dengan tugas akhir ini penuli                    menyajikan rumusan masalah,sebagai berikut,
“Bagaimana kesesuaian foto berita dengan isi caption pada koran tempo edisi Juli sampai September 2020”
1.3  Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas dalam tugas akhir penulis membatasi rumusan masalah, sebagai berikut :
1.  Isi caption foto berita ada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020”
2. Foto berita pada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
3. Kesesuaian caption foto berita pada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
1.4  Tujuan Penulisan
      1. Untuk memahami caption foto berita pada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
            2. Untuk memahami foto berita pada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
          3. Untuk memahami kesesuaian caption foto berita pada koran Tempo edisi Juli sampai September 2020
1.5  Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembacaan dan mengetahui isi laporan ini, penulis menguraikan pembahasan laporan secara sistematis sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi pembahasan mengenai Latar Belakang, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan dan Sistematika Penyusunan Laporan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi pembahasan mengenai jurnalisme online dan analisis ini.
BAB III METODOLOGI
Bab ini menguraikan jenis penelitian metode pendekatan penelitian dan metode pengumpulan data.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan analisis data, analisis kategori, dan pembahasan.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi mengenai kesimpulan dan saran.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar